ORIENTASI MAHASISWA DAKWAH KE DEPAN (2)

buku
Nasehat, taushiyah, maupun siraman rohani merupakan perbuatan yang sangat mulia. Namun sering kali banyak da’i, ustadz, maupun kiai didalam menyampaikannya tidak memperhatikan adab-adab yang harus dilakukan, sehingga tidak jarang nasehat atau taushiyah yang disampaikan tidak memberi bekas, kurang ditanggapi oleh pendengarnya bahkan diabaikan begitu saja! hal tersebutlah yang harus diperhatikan juga oleh mahasiswa Dakwah yang orientasi mereka adalah menyampaikan ilmu-ilmu agama?
Ada diantara mereka yang ketika menyampaikan nasehat, taushiyah, maupun siraman rohani mengunakan kata-kata yang menyakitkan hati, sehingga orang yang diberi nasehat bukannya sadar dari perbuatannya malah semakin menentang. Adapula yang menganjurkan orang lain untuk berbuat baik namun dia tak melakukannya atau menasehati seseorang dihadapan khalayak ramai sehingga membuatnya malu, Apakah layak untuk diucapkan ataukah tidak? berdampak positif atau malah menambah masalah?. Adapula yang memaksakan menyampaikan materi padahal dia tidak dibekali ilmu yang memadai dalam apa yang disampaikannya, sehingga membuat banyak kesalahan, pendengarnya jenuh, sulit dipahami, semata agar dikatakan sebagai orang intelak, ingin dipuji ,dan lain-lain.
Di dalam memberikan nasehat, taushiyah, maupun siraman rohani, seseorang dituntut oleh membekali diri dengan adab-adab yang berkaitan dengannya, sehingga membuat dampak positif terhadap pendengarnya (mad’u).
Maka yang harus diperhatikan adalah nasehatnya berdasarkan dalil-dalil al-Qur’an, hadits. berisi Al-Haq (kebenaran) memiliki cahaya yang kemilau, kemuliyaan memiliki kecantikan yang mengoda, sekailipun kebenaran tersebut berhadapan dengan jiwa-jiwa yang tumbuh dari lingkungan yang tidak baik atau tenggelam dalam hawa nafsu yang hina, maka tetap saja kebenaran tersebut akan menganggapnya suatu yang batil.
Adapun adabnya:
1. Menghiasi diri dengan ketaqwaan dan keikhlasan
2. Dengan ilmu
Keilmuan seorang pemberi nasehat yang menjadi landasannya dalam setiap apa yang ia ucapkan, dan membuta nasehat tersebut bersih dari munculnya hadits yang batil, kisah-kisah yan fiktif, atau menghiasi suatu bid’ah atau menyesatkan manusia

Satu Tanggapan

  1. web blog antum bagus ukhti, tulisannya juga bagus dan senantiasa memberikan pencerahan, jazakmullah atas dakwah yang antm lakukan

    nurulaeni:
    Barokallahufiekum

Tinggalkan Balasan